Ditusuk


Saya masih ingat, hari Sabtu, tangggal 2 Januari 2016, guru saya, A Lami, menikah dengan adik kelas saya, Diah. Tanggal itu bertepatan dengan jadwal saya masuk kuliah atau jadwal kuliah yang harus saya masuki. Ditambah beberapa hari lagi akan ujian, UAS, akronim dari Ujian Akhir Semester. Terpaksa saya tidak bisa hadir di acara pernikahannya.

Hari ini, Selasa, sehabis shalat maghrib, saya sengaja mendatangi rumah A Lami bermaksud untuk memberikan sebuah kertas kotak, atau lebih dikenal dengan nama panggilan kado. Hal ini merupakan rasa maaf saya atas ketidakhadiran di acara pernikahannya empat hari lalu.

Sebelum mendatangi rumah A Lami, saya sms terlebih dahulu adiknya, Rendra, yang menjadi mata-mata kakaknya. Kenapa saya sebut mata-mata? Karena, katanya dia punya mata dua. Makanya saya sebut mata-mata.

“Dra, ada di rumah?” saya sms Rendra.

“Ada, Om!” Rendra membalas.

Dia sudah biasa manggil saya om. Kenapa? Karena, enggak tahu lah saya juga. Padahal usia saya di bawah usianya. Mungkin hanya Rendra dan Allah saja yang tahu.


“Saya ke sana sekarang. Tunggu di gang depan!” lanjut saya.

Kenapa saya bilang tunggu di gang depan? Karena kalau ditunggunya di dalam rumah, iya enggak usah nunggu lah. Tinggal santai saja, sambil ngopi dan enak.

“Di depan rumah saja, Om!” balas Rendra

“Iya, sok. Saya tunggu di depan rumah saya!” (sok artinya: silahkan).

“Enggak. Maksudnya di depan rumah saya hhe,” (hhe artinya: hehe)

Tanpa membalas sms Rendra, saya berangkat membawa kado kecil yang isinya tidak seberapa. Setelah sampai di depan rumahnya, saya temui Rendra sedang duduk di kursi yang diperkhususkan untuk duduk.

“Eh, Om. Damang?” tanya Rendra kepada saya. (Damang=sehat)

Alhamdulillah, Dra. A Lami nya ada enggak?”

“Enggak. A Lami nginep di Rancamanyar, di rumah istrinya,” jawab Rendra.

Mendengar berita itu, hati saya bahagia. Kalau A Lami ada di rumah, nanti kadonya dibuka langsung dong. Kamu harus mengerti. Pas kadonya dibuka, takutnya mereka pada ketawa melihat isinya.

“Nitip kado buat A Lami, ya. Maaf pas hari Sabtu enggak bisa datang!” Kata saya setelah beberapa lama ngobrol dahulu.

“Iya, Om. Enggak apa-apa!”

Setelah memberikan kado, saya langsung pamit. Di perjalanan, ketika saya telah menyusuri gang, seorang ibu bersama anaknya yang masih bayi, kurang lebih dua tahun, tampak sedang membeli bakso kepada bukan tukang salon, tetapi tukang bakso.

“Ade ditusuk?” kata si ibu kepada anaknya. Mungkin si ibu nanya, ciloknya mau ditusuk atau pakai plastik.

“Ade ditusuk, asal Ibu diyamin!saya bergumam dalam hati.

Mengapa saya berkata demikian? Lantas saya kesal, kok si Ade ditusuk segala. Sakit kan? Ya sudah saya bela saja. Bagaimanapun juga, si Ibu harus diyamin! Titik.




Bandung, 5 Januari 2016

Comments

Popular Posts